MAKALAH PENGEMBANGAN MODEL DESAIN ORGANISASI DAN STRATEGI KURIKULUM

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif, di dalamnya mencakup perencanaan, penerapan, dan evaluasi (Sudrajat, 2009). Perencanaan kurikulum adalah langkah awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan digunakan oleh guru dan peserta didik. Penerapan Kurikulum atau biasa disebut juga implementasi kurikulum berusaha mentransfer perencanaan kurikulum ke dalam tindakan operasional. Evaluasi kurikulum merupakan tahap akhir dari pengembangan kurikulum untuk menentukan seberapa besar hasil-hasil pembelajaran, tingkat ketercapaian program-program yang telah direncanakan, dan hasil-hasil kurikulum itu sendiri.

Pengembangan kurikulum tidak hanya melibatkan orang yang terkait langsung dengan dunia pendidikan saja, namun di dalamnya melibatkan banyak orang, seperti politikus, pengusaha, orangtua peserta didik, serta unsur-unsur masyarakat lainnya yang merasa berkepentingan dengan pendidikan. Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum.

 

 

 

 

MAKALAH

PENGEMBANGAN MODEL DESAIN ORGANISASI DAN STRATEGI KURIKULUM

BAB II

PEMBAHASAN

 

A.   Desain Organisasi

Desain organisasi didasarkan pada elemen-elemen umum dalam organisasi. Mintzbeerg (Robbins, 1994:304) menyebutkan lima elemen umum dalam suatu organisasi, yaitu :

1.    The operating core. Para pegawai yang melaksanakan pekerjaan dasar yang berhubungan dengan produksi dari produk dan jasa. Dalam organisasi sekolah pegawai ini adalah guru. Guru dikatakan sebagai ujung tombak pendidikan yang berinteraksi langsug dengan layanan jasa pembelajaran kepada peserta didik.

2.    The strategic apex. Manajer tingkat puncak yang diberi tanggung jawab keseluruhan untuk organisasi. Pada organisasi sekolah, orang ini adalah kepala sekolah.

3.    The middle line. Para manajer yang menjadi penghubung operating core dengan strategic apec. Dalam konteks perguruan tinggi orang-orang ini adalah para dekan yang bertugas memfasilitasi strategic apex untuk terimplementasi pada level jurusan.

4.    The techo structure. Para penulis yang mempunyai tanggungjawab untuk melaksanakan bentuk standarisasi tertentu dalam organisasi. Dalam konteks organisasi pendidikan di Indonesia masih jarang sekolah yang memiliki tenaga ini.

5. The support staff. Orang-orang yang mengisi unit staf, yang memberi jasa pendukung tidak langsung kepada organisasi. Di persekolahan staf ini dikenal dengan tenaga administrative sekolah (TAS).

Berdasarkan lima elemen yang dikemukakan Mintzberg inilah, Robbins menganalisis desain organisasi yang berbeda. Perbedaan desain organisasi dikarenakan organisasi memiliki sistem dan aturan yang berbeda dalam kelima elemen tersebut. Lima konfigurasi umum yang dimaksud adalah struktur sederhana, birokrasi mesin, birokrasi professional, struktur divisional, dan adhocracy.[1]

 

B.   Desain Kurikulum

Desain kurikulum menyangkut pola pengorganisasian dari unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu :

1. Dimensi horizontal, dimensi ini berkenaan dengan penyusunan isi kurikulum yang sering  diintegrasikan dengan proses pembelajaran.

2.  Dimensi vertical, dimensi ini berkenaan dengan penyusunan sistematika bahan berdasarkan tingkat kesukaran. Misalnya bahan yang disusun mulai dari yang mudah menuju yang sulit.[2]

Berdasarkan pada apa yang menjadi fokus pengajaran, sekurang-kurangnya dikenal tiga pola desain kurikulum, yaitu:

 

1.    Subject centered design

Subject centered design curriculum merupakan bentuk desain yang paling popular, paling tua dan paling banyak digunakan. Dalam subject centered design, kurikulun dipusatkan pada isi atau materi yang akan diajarkan. Kurikulum tersusun atas sejumlah mata-mata pelajaran, dan mata-mata pelajaran tersebut diajarkan secara terpisah-pisah. Karena terpisah-pisahnya itu maka kurikulum ini disebut juga separated subject curriculum.

a.     The subject design

The subject design curriculum merupakan bentuk design yang paling murni dari subject centered design. Materi pelajaran disajikan secara terpisah-pisah dalam bentuk mata-mata pelajaran.

b.    The disciplines design

Bentuk ini merupakan pengembangan dari subject design, keduanya masih menekankan pada isi atau materi kurikulum. Walaupun bertolak dari hal yang sama tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Pada subject design belum ada criteria yang tegas tentang apa yang disebut subject (ilmu). Pada disciplines design criteria tersebut telah tegas, yang membedakan apakah suatu pengetahuan itu ilmu atau subject dan bukan adalah batang tubuh keilmuannya. Untuk menegaskan hal itu mereka menggunakan istilah discipline.

c.     The broad fields design

Dalam model ini mereka menyatukan beberapa mata pelajaran yang berdekatan atau berhubungan menjadi satu bidang study seperti sejarah, geogerafi dan ekonomi digabung menjadi ilmu pengetahuan social; aljabar, ilmu ukur dan berhitung menjadi matematika.

Tujuan pengembangan kurikulum broad fields adalah menyiapkan para siswa yang dewasa hidup dalam dunia informasi yang sifatnya spesialistis, dengan pemahaman yang bersifat menyeluruh.

2.    Learner centered design

Learner centered, memberi tempat utama pada peserta didik. Didalam pendidikan atau pengajaran yanbg belajar dan berkembang adalah peserta didik sendiri. Guru atau pendidik hanya berperan menciptakan situasi belajar mengajar, mendorong dan memberikan bimbingan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Peserta didik bukanlah tiada daya, dia adalah suatu organisme yang punya potensi untuk berbuat, berprikaku, belajar dan juga berkembang sendiri. Learnered centered design bersumber dari konsep tentang pendidikan alam, menekankan perkembangan peserta didik. Pengorganisasian kurikulum didasarkan atas minat, kebutuhan dan tujuan peserta didik.

3.    Problems centered design

Desain ini merupakan kurikulum yang berpusat pada masalah-masalah yang dihadapi dalam masyarakat. Problems centered design menekankan manusia dalam kesatuan keompok yaitu kesajahteraan masyarakat. Konsep ini menjadi landasan pula dalam pendidikan dan pengembangan kurukulum. Berbeda dengan learner centered, kurikulum mereka disusun sebelumnya (preplanned) yang berdasarkan kebutuhan, kepentingan dan kemampuan peserta didik. Problem centered design menekankan pada isi maupun peserta didik.

Ada dua variasi model desain kurikulum ini:

a. The areas of living design.

Variasi ini seperti learned centered design menekankan prosedur belajar melalui pemecahan masalah. Dalam prosedur belajar ini tujuan yang bersifat proses (process objectives) dan yang bersifat isi (content objectives) diintegrasikan. Penguasaan informasi-iformasi yang lebih bersifat pasif tetap dirangsang. Ciri lain dari model design ini adalah menggunakan pengalaman dan situasi-situasi nyata dari peserta didik sebagai pembuka jalan dalam mempelajari bidang-bidang kehidupan.

b. The core design.

Desain kurikulum ini timbul sebagai reaksi utama kepada separate subjects design, yang sifatnya terpisah-pisah. Dalam mengintegrasikan bahan ajar, mereka memilih mata-mata pelajaran/bahan ajar tertentu sebagai inti atau core. Pelajaran lainnya dikembangkan disekitar core tersebut. Karena pengaruh pendidikan progresif, berkembang teori tentang core design yang didasarkan atas pandangan progresif. Menurut konsep ini inti bahan ajar dipusatkan pada kebutuhan individual dan social.[3]

 

C.   Desain Organisasi Kurikulum

Organisasi kurikulum merupakan pola atau desain bahan kurikulum yang tujuannya untuk mempermudah siswa dalam mempelajari bahan pelajaran serta mempermudah siswa dalam melakukan kegiatan belajar, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif.[4]

Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam organisasi kurikulum diantaranya berkaitan dengan : ruang lingkup (scope), urutan bahan (sequence), kontinuitas, keseimbangan dan keterpaduan (integrated).[5]

Secara umum terdapat dua organisasi kurikulum yaitu :

1. Kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Curriculum)

Dalam bentuk kurikulum ini meliputi :

a.    Mata Pelajaran yang Terpisah-pisah (Separated Subject Curriculum)

                               Bentuk kurikulum ini sudah lama digunakan dalam dunia pendidikan kita, kareana bentuk kurikulum ini memiliki karakteristik yang sangat sederhana dan mudah dilaksanakan. Tetapi tidak selamanya yang dianggap mudah dan sederhana tersebut akan mendukung terhadap efektifitas dan efisiensi pendidikan yang sesuai dengan perkembangan social. Mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) bertujuan agar generasi muda mengenal hasil-hasil kebudayaan dan penghetahuan umat manusia yang telah dikumpulkan secara berabad-abad agar mereka tak perlu mencari dan menemukan kembali dengan apayang telah diperoleh dari generasi terdahulu (S.Nasution, 1986)

                               Dalam proses pembelajarannya bentuk kurikulum ini cenderung aktivitas siswa tidak diperhatikan bahkan diabaikan, karena yang dianggap penting adalah supaya sejumlah informasi sebagai bahan pelajaran dapat diterima dan dihafal oleh siswa. Demikian pula bahan pelajaran yang dipelajari siswa umumnya tidak actual karena tidak sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Secara fungsional bentuk kurikulum seperti ini mempunyai kekurangan dan kelebihan .

                               Adapun kekurangan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) yaitu:

1) Bahan pelajaran diberikan atau dipelajari secara terpisah-pisah, yang menggambarkan tidak ada hubungannya antara materi satu dengan materi lainnya.

2)    Bahan pelajaran yang diberikan atau dipelajari siswa tidak bersifat actual.

3)    Proses belajar lebih nmengutamakan aktivitas guru sedangkan siswa cenderung pasif.

4)    Bahan pelajaran tidak berdasarkan pada aspek permasalahan social yang dihadapi siswa maupun kebutuhan masyarakat. Bahan pelajaran merupakan informasi maupun pengetahuan dari masa lalu yang terlepas dengan kejadian masa sekarang dan masa yang akan datang.

5)    Proses dan bahan pelajaran sangat kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.

                        Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran yang terpisah-pisah (separated subject curriculum) yaitu:

1)    Bahan pelajaran disusun secara sistematis, logis, sederhana dan mudah dipelajari.

2)    Dapat dilaksanakan untuk mewariskan nilai-nilai dan budaya terdahulu.

3)    Kurikulum ini mudah diubah dan dikembangkan.

4)    Bentuk kurikulum ini mudah dipola, dibentuk, didesain bahkan mudah untuk diperluas dan dipersempit sehingga mudah disesuaikan dengan waktu yang ada.

b.    Mata Pelajaran Gabungan (Correlated Curriculum)

Kurikulum bentuk ini pun sudah lama digunakan dalam pendidikan kita. Korelasi kurikulum atau sering disebut broad field pada hakekatnya adalah penyatuan beberapa mata pelajaran yang sejenis, seperti IPA ( di dalamnya tergabung ada fisika, biologi, dan kimia) dan IPS. Kurikulum ini sebagai upaya penggabungan dari mata-mata pelajaran yang terpisah-pisah dengan maksud untuk mengurangi kekurangan yang terdapat dalam bentuk mata pelajaran. Korelasi kurikulum merupakan penggabungan dari mata pelajaran yang sejenis secara incidental. Dari bahan kurikulum yang terlepas-lepas diupayakan disatukan dengan bahan kurikulum atu mata pelajaran yang sejenis sehingga dapat memperkaya wawasan siswa dari berbagai disiplin ilmu. Ada beberapa kekurangan dan kelebihan dalam pola kurikulum ini.

Adapun kekurangan pola mata pelajaran gabungan (correlated curriculum) adalah :

1)   Bahan pelajaran yang diberikan kurang sistematis serta kurang begitu mendalam.

2)   Kurikulum ini kurang menggunakan bahan pelajaran yang actual yang langsung berhubungan dengan kehidupan nyata siswa. Kurikulum ini kurang memperhatikan bakat, minat dan kebutuhan siswa.

3) Apabila prinsip penggabungan belum dipahami kemungkinan bahan pelajaran yang disampaikan masih terlampau abstrak.

Sedangkan kelebihan pola mata pelajaran gabungan (correlated curriculum) adalah :

1)   Bahan bersifat korelasi walau sebatas beberapa mata pelajaran.

2)   Memberikan wawasan yang lebih luas dalam ingkup satu bidang studi.

3)   Menambah minat siswa berdasarkan korelasi mata pelajaran yang sejenis.

2. Kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum)

Kurikulum ini cenderung lebih memandang bahwa dalam suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh. Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternative pemecahan melalui berbagai disiplin imu atau mata pelajaran yang diperlukan, sehingga batas-batas antara mata pelajaran dapat ditiadakan. Kurikulum ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara berkelompok maupun secara individu, lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar, memungkinkan pembelajaran bersifat individu terpenuhi, serta dapat melibatkan siswa dalam mengembangkan program pembelajaran.[6]

Dalam penerapan kurikulum ini guru dituntut untuk memiliki kemampuan mengimplementasikan berbagai strategi belajar mengajar sesuai dengan karakteristik kurikulum tersebut. Ada beberapa kekurangan dan kelebihannya dalam bentuk kurikulm bentuk ini.

Adapun kelebihan kurikulum ini adalah :

a.         Mempelajari bahan pelajaran melalui pemecahan masalah dengan cara memadukan beberapa mata pelajaran secara menyeluruh dalam menelesaikan suatu topic atau permasalahan.

b.        Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar sesuai dengan bakat, minat dan potensi yang dimilikinya secara individu.

c.         Memberikan kesempatan pada siswa untuk menyelesaikan permasalahan secara komprehensip dan dapat mengembangkan belajar secara bekerjasama.

d.        Mempraktekan nilai-nilai demokrasi dalam pembelajaran.

e.         Memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara maksimal.

f.         Memberikan kepada siswa untuk nbelajar berdasarkan pada pengalaman langsung.

g.        Dapat menghilangkan batas-batas yang terdapat dalam pola kurikulum yang lain.

Sedangkan kekurangan dalam kurikulum ini adalah :

a.         Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru secara khusus dalam pengembangan kurikulum seperti ini.

b.        Bahan pelajaran tidak disusun secara logis dan sistemnatis.

c.         Bahan pelajaran tidak bersifat sederhana.

d.        Dapat memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda secara mencolok.

e.         Kemungkinan akan memerlukan biaya, waktu dan tenaga yang banyak oleh karena itu perlu diadakannya pengorganisasian yang lebih optimal sehingga dapat mengurangi kekurangan-kekurangan tersebut.

Dalam bentuk kurikulum ini meliputi :

a.   Kurikulum Inti (Core Curriculum)

Beberapa karakteristik yang dapat dikaji dalam kurikulum ini adalah :

1) Kurikulum ini direncanakan secara berkelanjutan (continue) selalu berkaitan dan direncanakan secara teus-menerus.

2)   Isi kurikulum yang dikembangkan merupakan rangkaian dari pengalaman yang saling berkaitan.

3)   Isi kurikulum selalu mengambil atas dasar masalah maupun problema yang dihadapi secara actual.

4) Isi kurikulum cenderung mengambil atau mengangkat substansi yang bersifat pribadi maupun social.

5) Isi kurikul ini lebih difokuskan berlaku untuk semua siswa, sehingga kurikulum ini sebagai kurikulum umum tetapi substansinya bersifat problema, pribadi, social dan pengalam yang terpadu.

b.   Social Functions dan Persistens Situations

Kurikulum social finctions didasarkan atas analisis kegiatan-kegiatan manusia dalam masyarakat.dalam social functions dapat diangkat berbagai kegiatan-kegiatan manusia yang dapat dijadikan sebagai topic pembelajaran. Kegiatan-kegiatan manusia di masyarakat setiap saat akan berubah sesuai dengan perkembangan maupun era globalisasi, sehingga substansi social functions pun harus bersifat dinamis.

Sebagai modifikasi dari social functions adalah persistent life situations yang berkarakteristik yaitu situasi yang diangkat senantiasa dihadapi manusia dalam hidupnya, masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang. Secara umum ada 3 kelompok sisuasi yang dihadapi manusia, yaitu :

1)   Situasi mengenai perkembangan individu manusia, diantaranya : kesehatan, intelektual, moral dan keindahan

2) Situasi untuk perkembangan partisipasi social, yaitu : hubungan antar pribadi, keanggotaan kelompok dan hubungan antar kelompok

3)   Situasi untuk perkembangan kemampuan menghadapi factor-faktor ekonomi dan daya-daya lingkungan, yaitu : bersifat alamiah, sumber teknologi dan struktur dan daya-daya social ekonomi

c.  Experience atau Activity Curriculum

Experience Curriculum sering juga disebut dengan Activity Curriculum mengutamakan kegiatan-kegiatan atau pengalaman-pengalaman siswa dalam rangka mmembentuk kemampuan yang terintegritas dengan lingkungan maupun potensi siswa.

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Desain organisasi didasarkan pada elemen-elemen umum dalam organisasi. Lima elemen umum tersebut adalah : The operating core, The strategic apex, The middle line, The techo structure danThe support staff.

Desain kurikulum menyangkut pola pengorganisasian dari unsur atau komponen kurikulum. Penyusunan desain kurikulum dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi horizontal, dan dimensi vertical

Secara umum terdapat dua organisasi kurikulum yaitu : kurikulum Berdasarkan Mata Pelajaran (Subject Curriculum) dan kurikulum Terpadu (Integrated Curriculum).

 

 



[1] Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, Alfabeta, 2009, Hal 77-78.

 

[2] Dra. Hj. Salamah, Mudol Pengembangan Kurikulum, IAIN Antasari Banjarmasin, 2009. Hal. 80

[3] http://clickmath4u.wordpress.com/2010/05/21/oranisasi-dan-desain-kurikulum/

[4] Drs. Ahmad,. Ddk, Pengembangan Kurikulum, CV. Pustaka Setia, Bandung,1998, Hal 79.

[5] http://fanioktaviani.blogspot.com/2009/11/model-dan-organisasi-kurikulum.html

[6] Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata. Pengembangan Kurikulum, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung. 2005, Hal 129.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

OBAT ALERGI KARENA DINGIN ALAMI

Obat alami untuk meredakan Penyakit Biduran 1. Buah Asam serta Temulawak Siapkan buah asam, 15 gr temulawak, serta gula aren. Rebus semu...